Logo SantriDigital

membangun keluarga sakinah

Ceramah
W
Waryono
2 Mei 2026 5 menit baca 1 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وّعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: {وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ} (الروم: 21). رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Yang terhormat, para alim ulama, para tokoh agama, Bapak/Ibu sesepuh yang mulia, serta hadirat para jamaah pengajian yang senantiasa dirahmati Allah SWT. Tak lupa, salam hormat setinggi-tingginya kepada seluruh Ibu-ibu sekalian, para pejuang di rumah tangga, garda terdepan dalam membentuk generasi penerus bangsa. Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT. Yang telah mempertemukan kita di majelis yang penuh berkah ini. Kehadiran Ibu-ibu sekalian merupakan anugerah luar biasa, bukti semangat yang membara untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Hari ini, Bapak/Ibu, kita akan menyelami sebuah tema yang sangat fundamental, tema yang menjadi pondasi kebahagiaan dunia dan akhirat kita: "Membangun Keluarga Sakinah". Ah, kata "sakinah" ini luar biasa. Ia bukan sekadar rumah tangga yang harmonis. Ia adalah ketenangan jiwa, kedamaian hati, kasih sayang yang mendalam, dan kehangatan yang tak terputus. Ini adalah dambaan setiap insan, impian setiap pasangan suami istri dan setiap orang tua. Ibu-ibu sekalian, mari kita tatap kembali ayat Al-Qur'an yang baru saja kita dengar, surah Ar-Rum ayat 21: {وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ}. Sungguh, di antara tanda-tanda kekuasaan Allah yang besar adalah Dia menciptakan untukmu pasangan (suami/istri) dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menciptakan di antaramu rasa kasih sayang (mawaddah) dan kepedulian (rahmah). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. Ayat ini bukan sekadar statement, tapi sebuah blueprint, sebuah peta jalan dari Sang Pencipta untuk kita. Sakinah itu lahir dari rasa "sakin" – ketenangan. Kapan hati kita tenang? Ketika kita merasa aman, dicintai, dihargai, dan dipahami. Dan ini semua diawali dari pernikahan. Pernikahan, dalam Islam, bukan sekadar urusan duniawi, tapi sebuah ibadah agung. Ia adalah perjanjian suci yang mengikat dua insan untuk bersama-sama menggapai ridha Allah. Namun, ingatlah Ibu-ibu, membangun keluarga sakinah itu bukan perkara mudah. Ia membutuhkan perjuangan. Perjuangan yang tiada henti. Bagaimana tidak? Kita dipersatukan dengan orang yang berbeda latar belakang, berbeda pengalaman, berbeda cara pandang. Potensi konflik itu pasti ada. Tapi di sinilah keindahan Islam. Islam tidak meninggalkan kita begitu saja. Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (istri). Jika dia tidak menyukai satu perangainya, niscaya dia ridha dengan perangai yang lain." (HR. Muslim). Subhanallah! Ini adalah sebuah kaidah emas. Jangan melihat kekurangan pasangan kita lalu langsung menghakimi. Carilah kelebihannya. Ingatlah kebaikan-kebaikannya. Pilihlah untuk fokus pada aspek positifnya. Itu adalah bentuk kesadaran dan perjuangan kita dalam membangun rumah tangga sakinah. Lalu, bagaimana kunci-kuncinya secara praktis? Pertama, komunikasi yang sehat. Ini adalah urat nadi keluarga. Sampaikanlah apa yang ada di hati dengan baik, bukan dengan amarah. Dengarkanlah pasangan kita dengan sungguh-sungguh, bukan hanya menunggu giliran bicara. Perbanyaklah *istighfar* saat emosi memuncak, dan ingatlah firman Allah: {وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا} (Al-Furqan: 63) – Dan apabila mereka (orang-orang jahil) dihadapkan kepada mereka orang-orang yang belum mengenal akhlak, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan. Kalimat "assalamualaikum" atau "maafkan aku" seringkali lebih berdaya dari seribu argumen. Kedua, saling menghargai dan menghormati. Suami harus menghargai peran istri, istri harus menghargai peran suami. Ingatlah kisah Siti Khadijah Al-Kubro. Beliau adalah wanita terpandang, hartawan, namun beliau tunduk dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sepenuh hati. Beliau tidak pernah merendahkan Rasulullah. Sebaliknya, beliau menjadi pendukung terkuat. Termasuk kita sebagai istri, mari kita dukung suami kita. Dan bagi suami, hargailah perjuangan istri di rumah. Ketiga, saling menutupi aib. Pernikahan adalah benteng pertahanan, bukan panggung pembuka. Jangan buka aib pasangan kita, baik kepada keluarga, teman, maupun tetangga. "Seorang mukmin tidak membuka aib seorang mukmin lainnya, dan tidak pula Allah akan membuka aibnya di hari kiamat." (HR. Ibnu Majah). Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang menjaga rahasia satu sama lain. Keempat, kesabaran dan memaafkan. Hidup ini penuh ujian, Ibu-ibu. Akan ada badai, akan ada gelombang. Tapi jika kita punya bekal kesabaran dari Allah, insya Allah kita akan melewati semuanya. Dan ketika ada kesalahan, jangan biarkan dendam bersemayam di hati. Memaafkan itu bukan tanda kelemahan, tapi tanda kebesaran jiwa. "Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mencari surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Ali Imran: 133-134). Terakhir, niatkan setiap perjuangan kita untuk meraih ridha Allah. Ketika kita melayani suami, ketika kita mendidik anak, ketika kita menjaga rumah tangga, jadikan itu semua sebagai ibadah. Bayangkan, setiap peluh keringat kita, setiap doa yang kita panjatkan, setiap kesabaran yang kita tunjukkan, semuanya bernilai di hadapan Allah. Ibu-ibu sekalian, membangun keluarga sakinah itu adalah proses seumur hidup. Ia membutuhkan komitmen, cinta, dan kerja keras. Jangan pernah berhenti berusaha. Jangan pernah lelah berdoa. Karena keluarga sakinah, mawaddah, warahmah adalah anugerah terindah dari Allah SWT. Mari kita kobarkan semangat untuk terus berjuang membangun rumah tangga yang tidak hanya bahagia di dunia, tetapi juga terselamatkan di akhirat kelak. Mari kita angkat tangan, kita berdoa kepada Allah SWT. Ya Allah, Tuhan kami. Jadikanlah rumah tangga kami, keluarga kami, keturunan kami, sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Ya Allah, karuniakanlah kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka. Ya Allah, kuatkanlah iman kami, lembutkanlah hati kami, satukanlah kami dalam ketaatan kepada-Mu. Ya Allah, berkahilah setiap langkah perjuangan kami dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai kita. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →